NUSANTARAMAILS.COM – Belanda pernah menyebutnya sekadar “kerusuhan lokal”. Namun arsip kolonial justru mencatatnya sebagai sebuah ancaman serius.
Pada tahun 1888, rakyat Cilegon–Banten bangkit melawan setelah bertahun-tahun hidup di bawah beban pajak berat, kerja paksa, dan tekanan aparat kolonial. Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh agama dan ulama lokal bukan oleh tentara besar, dan bukan pula oleh kerajaan.
Dalam satu malam, kantor-kantor pemerintahan diserang, pejabat kolonial dibunuh, dan jalur komunikasi Belanda dilumpuhkan.
Pemerintah kolonial pun bereaksi cepat dengan mengirim pasukan tambahan, menangkap ratusan orang, serta mengasingkan para pemimpin perlawanan ke luar Jawa.
Bagi Belanda, peristiwa ini bukan sekadar pemberontakan kecil. Ia menjadi bukti bahwa rakyat biasa, ketika bersatu, mampu mengguncang kekuasaan kolonial dan itulah yang paling mereka takuti.
Baca Juga :
Sosok Aiptu Yanto Kanit Intelkam Polsek Tanjung Kemuning, Sukses Ungkap Beberapa Kasus KLB
Catatan Kolonial Belanda ini menjadi kekhawatiran negara-negara besar di dunia. Rakyatnya bisa saja melawan pemerintah ketika rakyat sudah tidak tahan lagi atas beban yang dipukulnya.
Beban pajak, kerja paksa hingga tekanan aparat kepada rakyat membuat perlawanan rakyat bangkit dan menghancurkan pemerihtahan.(yti)

2 comments