KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Lahirnya koperasi merah putih menjadi harapan baru bagi masyarakat sebagai sarana percepatan pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Lahirnya koperasi merah putih diharapkan menjadi wadah perekonomian yang lebih cepat membangun kesejahteraan masyarakat.
Namun, ditengah hiruk pikuk desa menyusun kepengurusan koperasi merah putih terselip rasa keraguan optimis akan membawa perubahan dan kemajuan.
Bagi sebagian desa yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal mengelolah koperasi merah putih ada keyakinan program ini akan membawa dampak positif.
Namun dibeberapa desa yang SDM-nya belum mumpunii rasa keraguan lebih mendominasi akan mampu menciptakan kemandirian usaha dan pengembangan ekonomi.
Hal ini dilihat dari perjalanan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) selama ini. Tidak sedikit BUMDes yang mendapat kucuran anggaran ratusan juta pada akhirnya tutup karena bangkrut.
Baca Juga :
Pencak Silat Pagar Nusa Tampil Atraktif di Pembukaan Konfercab Ke-VI GP Ansor Bengkulu Selatan
Ketidakberjalanannya BUMDes lebih didominasi oleh manajemen dan SDM pengelolah yang kurang tertata rapi. Sehingga, usaha BUMDes tidak berkembang dan mati.
Disisi lain, tidak sedikit pula BUMDes yang berhasil dan memiki aset hingga miliaran rupiah. Usaha BUMDes mampu menopang kelanjutan pembangunan desa serta menjadi wadah tumbuh ya perekonomian masyarakat desa.
Banyak pertanyaan, siapkah SDM untuk mengelolah koperasi merah putih nantinya menjadi wadah pertumbuhan ekonomi menuju kesejahteraan masyarakat ???
“Antara keraguan dan optimistis menyongsong berjalannya koperasi merah putih disemua desa. SDM menjadi salah satu faktor penting dalam pengoptimalan usaha koperasi yang dikembangkan,” ujar Roimana Putra (46).(yti)

One comment