Skip to content

Angin Boleh Saja Mendorong, Tapi Angin Tidak Selalu Boleh Menentukan Arah

Oplus_131072

NUSANTARAMAILS.COM – Ada masa ketika hidup terasa seperti ruang yang terlalu sempit untuk menjadi diri sendiri.

Di satu sisi ada suara yang berkata, “Ikuti saja. Semua orang juga begitu”.

Di sisi lain, ada suara kecil dalam diri yang terus bertanya, “Benarkah harus begitu?”

Masalahnya, suara mayoritas sering terdengar seperti kebenaran. Sesuatu yang dilakukan banyak orang perlahan dianggap wajar.

Sesuatu yang dipertanyakan justru dianggap aneh. Dan orang yang memilih berbeda sering kali harus membayar mahal hanya untuk mempertahankan pikirannya sendiri.

Kita hidup dalam masyarakat yang kadang lebih menghargai kepatuhan daripada kesadaran.

Orang yang menurut disebut baik. Ketika orang yang banyak bertanya disebut sulit. Dan orang yang punya pendirian disebut keras kepala.

Lucunya, ketika pilihan yang berbeda akhirnya terbukti berhasil, labelnya berubah.

Yang dulu disebut keras kepala mendadak disebut visioner. Kemudian yang dulu dianggap aneh mendadak disebut inspiratif.

Begitulah manusia. Kita sering baru menghormati keberanian setelah melihat hasilnya.

Tetapi terlalu cepat menghakimi ketika prosesnya masih berlangsung.

Namun berbeda bukan berarti selalu benar. Itulah bagian yang sering dilupakan.

Memiliki pendirian bukan berarti menolak semua nasihat. Berpikir kritis bukan berarti merasa paling pintar. Dan memilih jalan sendiri bukan berarti membenci jalan yang ditempuh orang lain.

Kadang kita hanya perlu cukup jujur untuk bertanya sebelum ikut percaya.

Sebab hidup bukan sekadar tentang bagaimana agar kita diterima. Ada kalanya kita harus memilih antara diterima oleh banyak orang atau tetap berdamai dengan hati nurani sendiri.

Tidak semua tekanan harus dilawan dengan kemarahan. Tidak semua perbedaan harus diumumkan. Dan tidak setiap keputusan membutuhkan tepuk tangan.

Ada keberanian yang paling sunyi: tetap menjadi diri sendiri ketika tidak ada seorang pun yang sedang bertepuk tangan.

Pada akhirnya, yang menentukan kualitas perjalanan bukan berapa banyak orang yang berjalan bersama kita.

Tetapi apakah kita tahu mengapa kita memilih arah itu. Karena mengikuti semua orang memang membuat langkah terasa ringan.

Tetapi belum tentu membuat kita sampai pada tempat yang seharusnya.

Berdaamailah dengan hati, menjauhkan ego demi kebaikan yang hakiki.(**)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan