Skip to content

Ambulance Beroda Kaki Manusia Buat Hati Teriris Saat Evakuasi Pasien ke RSUD Kaur, Infus Tergantung Di Bambu Tandu

Bahu kekar dan derap langkah kaki yang kuat sebagai pengganti ambulance saat evakuasi pasien ke RSUD, Potret kehidupan di desa terpencil Kabupaten Kaur.

Penulis : Yusman
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kaur

DI TENGAH gencarnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan kesehatan, masih ada pemandangan yang menampar nurani.

Sebuah video warga pada Sabtu (16/11/2025), memperlihatkan bagaimana seorang pasien harus dievakuasi ke RSUD Kaur menggunakan tandu bambu, dengan infus yang digantung seadanya. Bukan mobil ambulance yang mengantar, melainkan derap langkah kaki manusia.

Peristiwa itu terjadi di salah satu desa terpencil di Kecamatan Maje Kabupaten Kaur. Jalan sempit, berlubang, dan terjal membuat mobil tidak bisa masuk. Ketika kondisi pasien mendadak memburuk, warga tidak punya pilihan selain menggotong tubuh lemah itu melewati jalur pematang dan bebatuan.

Di atas tandu bambu yang dilapisi kain tipis, tubuh pasien tampak terbaring lemah. Selang infus menggantung dari sebilah bambu kecil yang diikatkan pada tandu. Empat orang lelaki bergantian memikul, sementara yang lain berjalan sambil memastikan cairan infus tetap mengalir.

“Tak ada pilihan lain, jalan ke sini memang tidak bisa dilewati kendaraan. Kami takut kondisi pasien makin parah,” ujar salah satu warga yang ikut mengangkat tandu.

Meski langkah para pengusung tandu terhitung tegar, wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa cemas. Nafas terengah, bahu gemetar, namun mereka terus melangkah sejauh lebih dari dua kilometer menuju titik terdekat yang bisa dijangkau mobil.

Begitu sampai di pinggir jalan utama, barulah sebuah kendaraan menjemput dan membawa pasien ke RSUD Kaur untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Peristiwa ini kembali menyadarkan bahwa akses kesehatan bukan hanya soal ketersediaan fasilitas medis atau tenaga dokter, tetapi juga infrastruktur dasar yang memungkinkan warga menjangkaunya. Bagi masyarakat di pedalaman, “ambulance” bukanlah mobil dengan sirine meraung—melainkan gotong royong dan kaki-kaki manusia yang berjuang sekuat tenaga.

Warga berharap pemerintah daerah, provinsi maupun pemerintah pusat segera memperhatikan akses jalan ke desa mereka. “Kalau ada orang melahirkan atau sakit keras, beginilah cara kami membawanya. Kami hanya ingin jalan yang layak,” tambah seorang tokoh desa.

Kisah ini bukan sekadar potret kesulitan, tetapi juga gambaran ketabahan dan kepedulian. Di balik tandu bambu dan bahu-bahu yang memikulnya, tersimpan harapan agar suatu hari nanti, layanan kesehatan benar-benar dapat dirasakan secara merata—tanpa lagi harus mengorbankan waktu, tenaga, dan nyawa.(**)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan