KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Ketahanan pangan menjadi salah satu indikator penting kesejahteraan masyarakat desa.
Namun, di tengah alokasi anggaran rutin setiap tahun, realitas di lapangan masih menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan pangan warga belum mampu dipenuhi secara mandiri.
Pasokan dari luar desa masih menjadi penopang utama ketersediaan bahan pokok harian.
Program ketahanan pangan sebenarnya telah menjadi agenda wajib dalam setiap penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).
Anggaran pun disiapkan dari Dana Desa dengan porsi minimal 20 persen untuk mendukung sektor pangan dan hewani.
Sayangnya, efektivitas dari program tersebut sering kali belum dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
“Setiap tahun ada kegiatan ketahanan pangan, tapi belum terlihat dampak langsungnya. Kalau musim panen gagal atau pasokan beras dari luar terhambat, warga langsung kesulitan,” ungkap salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Minimnya produksi lokal disebabkan oleh beberapa faktor. Mulai dari lahan pertanian yang terbatas, kurangnya irigasi, hingga lemahnya dukungan terhadap kelompok tani dan pengelola usaha pangan desa.
Baca Juga :
Akibatnya, upaya menuju kemandirian pangan masih sebatas wacana dalam dokumen perencanaan.
Di sisi lain, beberapa desa sebenarnya telah mencoba berinovasi dengan membangun kolam ikan, kebun sayur, dan lumbung pangan.
Namun, kegiatan tersebut sering kali terhenti di tengah jalan karena lemahnya pendampingan dan minimnya keberlanjutan program.
“Program ketahanan pangan harus diukur bukan dari laporan kegiatan, tetapi dari berapa persen kebutuhan pangan masyarakat bisa dipenuhi dari produksi desa sendiri,” kata seorang pendamping lokal desa yang turut memantau pelaksanaan program di lapangan.
Kini, tantangan terbesar bagi pemerintah desa adalah bagaimana mengubah pola pikir dari sekadar menjalankan kewajiban anggaran menjadi membangun sistem pangan yang berkelanjutan.
Kemandirian pangan bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal mengelola, menyimpan, dan mendistribusikan hasilnya secara efisien.
Ke depan, penguatan kelembagaan petani, diversifikasi pangan lokal, dan optimalisasi lahan tidur harus menjadi fokus utama.
Sebab, keberhasilan ketahanan pangan sejatinya bukan diukur dari seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari seberapa sedikit warga desa yang bergantung pada pasokan dari luar.
Pembangunan desa tidak akan bermakna tanpa ketahanan pangan yang kokoh. Sudah saatnya desa berhenti sekadar menganggarkan, dan mulai benar-benar membangun kemandirian pangan yang berakar dari kekuatan lokal.(yti)

One comment