NUSANTARAMAILS.COM – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus bergerak, manusia kian larut dalam ambisi dan kesibukan. Dari pagi hingga malam, sebagian besar waktu dihabiskan mengejar target, status sosial, harta, dan pencapaian duniawi.
Namun, satu hal yang sering luput disadari waktu terus berjalan, dan setiap manusia sedang berada dalam antrean menuju kematian.
Fenomena ini bukan sekadar retorika. Para ahli psikologi dan spiritual menyebut kondisi ini sebagai “kesadaran eksistensial yang tertunda.” Manusia modern, meski cerdas dan berpendidikan, kerap lupa bahwa hidup bukan sekadar bekerja dan mengumpulkan kekayaan.
“Kita terlalu sibuk merancang masa depan seolah kita bisa hidup selamanya. Padahal, sejak lahir, kita sebenarnya sudah mulai mendekati akhir,” ujar Dr. Farhan Malik, dosen filsafat Universitas Indonesia.
Baca Juga :
Bahas Hibah Lahan Prokimal, Pemda Kaur Rapat Tindaklanjut Bersama TNI AL
Di berbagai platform media sosial, kutipan seperti “Sibuk mikirin dunia, tapi tak sadar antri untuk meninggalnya” ramai dibagikan.
Banyak netizen merasa tersentuh dan merenung, mengingat betapa sering mereka lupa tentang hakikat hidup yang sementara.
Bagi sebagian orang, perenungan ini menjadi titik balik. Mereka mulai menata ulang prioritas hidup — lebih banyak waktu bersama keluarga, menekuni ibadah, melakukan kebaikan, dan memperbaiki hubungan antar sesama.
“Setiap orang pasti akan mati. Tapi tidak semua orang benar-benar hidup sebelum kematiannya tiba,” tulis akun @renungansenja dalam salah satu unggahan viralnya.
Berita ini bukan ajakan untuk pasrah atau menyerah dari kehidupan. Justru sebaliknya, ini adalah panggilan untuk hidup dengan lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih bijaksana.
Dunia memang penting, tapi jangan sampai kehilangan arah dan lupa pada tujuan akhir.
Karena sejatinya, semua sedang dalam antrean — bukan menuju kantor, bukan menuju kesuksesan semu, tapi menuju akhir yang pasti. Maka, bijaklah dalam menggunakan waktu.(**)

One comment