Skip to content

Rahasia Senja, Seandainya Kata Maaf Tak Pernah Terlambat

Puisi Senja.

Pada bait-bait itu, aku bersembunyi dalam kesendirian tanpa teman—kemudian menjadikan kata sebagai lawan.

Aku menunjukan kebahagiaan walau pun berakhir dengan kepura-puraan.

Berusaha memulihkan keadaan,
dari mulai menyongsong pagi hingga menjelang malam—aku adalah temaram yang sewaktu-waktu akan menghilang ditelan ketidaktahuan diantara setiap keingintahuan.

Aku ingin memperlambat jarum jam yang berputar dari detik-detiknya yang semakin kaku. Sesekali dalam renungan aku ingin berbincang denganmu—mencari-mu dari setiap denyut nadiku. Berusaha melawan waktu dengan segalah ego ingin menemukanmu.

Baca Juga : 

Gawat, Saksi TPS Berpotensi Pulang Dengan Tangan Hampa

Kerap dalam setiap setapak—
aku ingin menuntaskan jarak memecah gerak kemudian menyatukan kembali keping-keping hati yang sempat retak. Berharap banyak seperti jantung yang butuh detak.

Seandainya dapat aku bendung kehilangan, seandainya kata-kata itu tidak terasa menyakitkan, apa kau tahu? aku masih berharap dapat sehidup semati denganmu.

Bahkan seandainya kata maaf tak pernah terlambat, meski dengan air mata aku masih mencari cara untuk mempererat sesuatu yang tak lagi rekat.(**)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan