Skip to content

Catatan Redaksi, Karang Taruna dan Sebuah Kesepian Generasi

NUSANTARAMAILS.COM – Di tengah gegap gempita keramaian dunia media sosial, semakin banyak anak muda kehilangan ruang untuk didengar, dipahami dan bertumbuh bersama.

“Kesepian bukan selalu karena tak memiliki temanm Kadang ia lahir ketika sebuah generasi kehilangan ruang untuk merasa berarti. Karang taruna hadir bukan sekedar membangun kegiatan, tetapi membangun tempat pulang bagi jiwa-jiwa muda,” Sikola Desa.

Ada yang diam-diam hilang dari desa-desa. Bukan sawahnya. Bukan jalan rayanya. Bukan pula balai desanya. Yang perlahan menghilang adalah ruang bagi anak muda untuk merasa dimiliki.

Semua sedang sibuk membangun desa, tetapi lupa membangun jiwa yang akan menghuninya.

Lihatlah setiap perayaan di desa. Panggung berdiri megah. Musik diperdengarkan hingga larut malam.

Turnamen olahraga digelar berhari-hari. Lomba demi lomba memenuhi kalender kegiatan. Baliho dipasang, spanduk dibentangkan, dokumentasi memenuhi media sosial.

Desa tampak hidup. Kamera menangkap senyum di mana-mana. Namun, sesudah lampu panggung dipadamkan dan suara pengeras berhenti menggema, ada kesunyian yang tetap tinggal.

Kesunyian itu bernama generasi yang kehilangan tempat untuk pulang.

Ironisnya, semua terlalu sering mengukur keberhasilan Karang Taruna dari seberapa ramai sebuah acara.

Bukan dari seberapa banyak anak muda yang berhasil dirangkul. Kita lebih bangga menghitung jumlah peserta lomba daripada menghitung berapa pemuda yang berhenti merasa putus asa.

Kita lebih sibuk menyusun laporan pertanggungjawaban daripada bertanya, “Siapa anggota kita yang sudah lama tidak terlihat?”

Mungkin karena yang pertama lebih mudah difoto. Yang kedua hanya bisa dirasakan.

Inilah zaman ketika seseorang bisa memiliki lima ribu teman di media sosial, tetapi tidak memiliki satu orang pun yang benar-benar mau mendengarkan ceritanya.

Kita hidup dalam paradoks yang aneh. Teknologi mempercepat komunikasi, tetapi memperlambat kedekatan.

Informasi mengalir tanpa henti, tetapi empati justru mengalami kelangkaan.

Akibatnya, kesepian menjadi wabah yang tidak pernah diumumkan sebagai bencana.

Ia tidak masuk dalam statistik pembangunan. Tidak tercatat dalam indikator kinerja pemerintah desa.

Tidak dibahas serius dalam musyawarah. Padahal dari kesepian itulah banyak persoalan bermula.

Kita sering menyebut narkoba sebagai musuh generasi muda. Kita benar. Tetapi kita sering lupa bahwa narkoba jarang datang ke hati yang penuh harapan. Ia lebih mudah masuk ke hati yang kosong.

Kita mengutuk pengguna narkoba, tetapi sering gagal bertanya mengapa mereka mencari pelarian.

Kita mengecam kenakalan remaja, tetapi jarang bertanya kapan terakhir kali kita benar-benar mendengar suara mereka.

Kita sibuk mengobati luka yang sudah menganga, tetapi enggan menyentuh penyebabnya.

Bukankah setiap penyimpangan sosial hampir selalu diawali oleh rasa tidak memiliki?

Rasa tidak memiliki keluarga.
Rasa tidak memiliki teman.
Rasa tidak memiliki tujuan.
Rasa tidak memiliki tempat.

Lalu kita berharap semua itu selesai hanya dengan seminar dua jam, spanduk bertuliskan “Say No to Drugs”, atau sekali penyuluhan setiap tahun.

Seolah-olah persoalan yang tumbuh bertahun-tahun bisa selesai oleh satu sesi foto bersama.

Di sinilah Karang Taruna seharusnya hadir. Bukan sebagai panitia yang ahli memasang tenda. Bukan sekadar organisasi yang sibuk mengejar proposal kegiatan. Apalagi hanya muncul ketika anggaran tersedia.

Karang Taruna seharusnya menjadi benteng sosial terakhir. Tempat seorang anak muda menemukan alasan untuk tetap percaya bahwa hidupnya berarti.

Sayangnya, di banyak tempat, organisasi ini perlahan kehilangan ruhnya. Ia sibuk mengurus acara, tetapi lupa mengurus manusia.

Ia pandai membuat rundown kegiatan, tetapi gagap membaca kegelisahan anggotanya. Ia fasih menyebut program kerja, tetapi jarang berbicara tentang luka-luka yang disembunyikan generasi muda.

Padahal kepemimpinan tidak pernah dimulai dari mikrofon. Ia dimulai dari kesediaan mendengar.

Barangkali kita terlalu lama mendidik anak muda untuk menjadi pengisi acara, tetapi lupa mendidik mereka menjadi pendengar yang baik.

Kita melatih mereka berbicara di depan umum, tetapi tidak mengajarkan cara memahami teman yang diam.

Kita bangga ketika mereka mampu memimpin rapat, tetapi tidak pernah bertanya apakah mereka mampu merangkul orang yang sedang kehilangan harapan.

Padahal desa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara.

Desa membutuhkan manusia yang sanggup hadir. Sebab kehadiran adalah bentuk kepedulian yang paling sederhana sekaligus paling langka.

Hari ini, ancaman terbesar terhadap generasi muda mungkin bukan sekadar narkoba, minuman keras, atau judi daring.

Ancaman terbesar adalah ketika mereka mulai merasa bahwa tidak ada seorang pun yang peduli apakah mereka baik-baik saja atau tidak.

Ketika seorang anak muda percaya bahwa keberadaannya tidak penting, maka dunia luar akan dengan mudah menawarkan pengganti.

Geng jalanan akan menerimanya. Pengedar narkoba akan memanfaatkannya. Kelompok-kelompok yang menjanjikan pengakuan akan memeluknya.

Bukan karena mereka lebih baik, tetapi karena mereka datang lebih dahulu daripada kita.

Lalu kita bertanya mengapa generasi muda menjauh.

Mungkin karena kita lebih sering memanggil mereka ketika membutuhkan tenaga daripada ketika mereka membutuhkan pelukan.

Kita mengajak mereka rapat, tetapi lupa mengajak mereka berbincang.

Kita meminta loyalitas mereka, tetapi lupa memberikan rasa memiliki.

Dan yang paling menyedihkan, kita sering menyalahkan mereka karena tidak peduli pada organisasi, padahal mungkin organisasi itulah yang lebih dahulu tidak peduli kepada mereka.

Karang Taruna tidak akan kehilangan masa depan karena kekurangan anggaran.

Ia akan kehilangan masa depan ketika kehilangan empati. Sebab organisasi tidak pernah dibangun oleh stempel, sekretariat, atau seragam.

Organisasi dibangun oleh hubungan antarmanusia. Oleh rasa saling percaya. Oleh keyakinan bahwa ketika seseorang jatuh, akan ada tangan yang mengangkatnya tanpa bertanya apa latar belakangnya.

Di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya. Bukan berapa banyak kegiatan yang selesai. Melainkan berapa banyak kehidupan yang berubah.

Bukan berapa besar dana yang berhasil diserap. Melainkan berapa banyak anak muda yang berhasil diselamatkan dari rasa tidak berarti.

Mungkin laporan itu tidak pernah masuk dalam dokumen pertanggungjawaban. Tidak pernah dibacakan dalam rapat tahunan.

Tidak pernah mendapatkan tepuk tangan. Namun justru laporan itulah yang paling bernilai di hadapan sejarah.

Karena sejarah tidak hanya mengingat siapa yang paling sering membuat acara. Sejarah mengingat siapa yang menjaga harapan ketika semua orang sibuk mengejar perayaan.

Maka jika hari ini kita benar-benar ingin menghidupkan kembali Karang Taruna, jangan mulai dengan bertanya, “Kegiatan apa yang akan kita buat tahun ini?”

Mulailah dengan pertanyaan yang jauh lebih sunyi, tetapi jauh lebih penting.

“๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ?”

Sebab dari pertanyaan itulah sebuah organisasi menemukan kembali jiwanya.

Dan mungkin, dari sanalah sebuah generasi diselamatkan.

Penulis : Rano Sanjaya Abdusama
Village & Cooperative Development Specialist
๐˜›๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ โ€“ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด – ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜บ ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต ๐˜๐˜ข๐˜ค๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ

Leave a comment

Tinggalkan Balasan