Bengkulu Selatan – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bengkulu Selatan kembali membuktikan bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas seremonial.
Lewat kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG), PMII secara terbuka membongkar isu-isu sensitif yang selama ini sering dianggap “rawan dibicarakan”: mulai dari kesetaraan gender, konsep dasar gender, fikih perempuan, hingga hukum Islam di Indonesia dalam perspektif gender.
Kegiatan yang digelar di lantai dua Gedung Sekretariat Nahdlatul Ulama (NU) Bengkulu Selatan (31/01/2025) ini diikuti oleh peserta dari Komsat Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan dan Komsat STIT Al Qur’aniyah, menjadikannya ruang konsolidasi ideologis lintas komisariat.
Sebagai penanggung jawab kegiatan, Selvina Anugrah menegaskan bahwa SIG tidak dirancang sebagai forum wacana kosong, tetapi sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis kader PMII terhadap realitas sosial dan keagamaan.
“SIG ini bukan untuk menggugurkan iman, tapi untuk meluruskan cara berpikir. Islam itu adil, tapi sering kali ketidakadilan lahir dari tafsir yang sempit dan praktik yang bias,” tegas Selvina.
Materi yang disajikan terbilang tajam dan komprehensif, meliputi Kesetaraan Gender, Konsep Dasar Gender, Fikih Perempuan, Citra Diri KOPRI, Keorganisasian, Konsep Dasar Islam, Hukum Hadis dan Perspektif Gender, serta Hukum Islam di Indonesia.
SIG tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi membongkar cara pandang lama yang kerap menempatkan perempuan sebagai objek, bukan subjek perubahan.
Ketua Panitia, Titi Amaisyah, menegaskan bahwa SIG adalah bagian dari strategi ideologis PMII dalam membangun kader yang sadar nilai, bukan sekadar loyal struktur.
“Kami ingin kader PMII berpikir merdeka, kritis, dan berani bersuara. Isu gender bukan isu Barat, ini soal keadilan dan kemanusiaan dalam Islam,” ujarnya.
Salah satu peserta, Nursita Meisya Mardhatila dari STIT Makrifatul Ilmi, mengaku SIG memberikan perspektif baru tentang hubungan antara Islam dan keadilan gender.
“Banyak hal yang selama ini dianggap wajar ternyata perlu dikaji ulang. SIG membuka kesadaran bahwa Islam tidak pernah mengajarkan ketimpangan,” ungkapnya.
Melalui SIG ini, PMII Bengkulu Selatan mengirim pesan tegas: kader PMII tidak boleh alergi terhadap diskursus kritis, apalagi soal gender dan keadilan sosial.
Di tengah menguatnya konservatisme sempit, SIG hadir sebagai ruang perlawanan intelektual yang membangun Islam yang adil, rasional, dan berkeadaban.
“SIG bukan hanya kegiatan, tetapi pernyataan sikap: PMII Bengkulu Selatan memilih berdiri di barisan kader yang berpikir, bukan sekadar ikut arus,” tutup Selvina.

Leave a comment