MOROWALI || NUSANTARAMAILS.COM — Konflik masyarakat dengan perusahaan tambang di Desa Torete, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berujung pada penangkapan empat orang warga oleh aparat kepolisian.
Insiden tersebut juga diwarnai pembakaran kantor perusahaan tambang serta pengamanan terhadap seorang jurnalis yang tengah melakukan peliputan.
Situasi di Desa Torete mulai memanas sejak Sabtu (3/1/2026), setelah polisi menangkap seorang warga yang selama ini aktif menyuarakan tuntutan masyarakat terkait hak atas lahan.
Penangkapan itu memicu kemarahan warga dan berujung pada aksi lanjutan.
Pendamping warga Desa Torete, Amrin, menjelaskan bahwa kericuhan dipicu oleh penangkapan Arlan Dahrin, yang dilakukan aparat bersenjata lengkap saat warga sedang menyampaikan tuntutan kepada pihak perusahaan tambang.
Menurut Amrin, Arlan sebelumnya dilaporkan atas dugaan diskriminasi ras dan etnis. Namun, persoalan tersebut disebut telah diselesaikan melalui proses mediasi.
Penangkapan mendadak dinilai janggal karena terjadi saat warga melakukan pemblokiran jalan menuju area perusahaan sebagai bentuk protes terhadap kewajiban perusahaan yang belum dipenuhi terkait lahan masyarakat.
Pasca penangkapan itu, warga mendatangi kantor kepolisian sektor setempat untuk meminta pembebasan Arlan.
Namun, karena tidak mendapat respons yang diharapkan, massa kemudian bergerak ke kantor perusahaan tambang yang lokasinya tak jauh dari desa. Tak lama berselang, kantor tersebut dilaporkan terbakar.
Keesokan harinya, aparat kembali mendatangi Desa Torete dan menangkap tiga warga lainnya dengan dugaan keterlibatan dalam pembakaran kantor perusahaan tersebut. Total empat warga kini diamankan polisi.
Amrin menilai langkah aparat terkesan represif dan tidak mencerminkan pendekatan yang adil dalam menangani konflik agraria.
Ia menegaskan bahwa penegakan hukum seharusnya mengedepankan keadilan dan dialog, bukan memperburuk situasi di tengah konflik antara masyarakat dan perusahaan.
“Penanganan konflik semestinya mengutamakan keadilan bagi warga, bukan justru memperlihatkan keberpihakan pada kepentingan modal,” ujar Amrin.
Dalam insiden tersebut, dikabarkan satu awak media sempat diamankan polisi bersenjata lengkap saat melakukan tugasnya meliput aksi massa.(**)
Sumber : Kompas.com

Leave a comment