Skip to content

Insiden Pengeroyokan Karyawan PT ABS, Ini Penjelasan Manajer Kebun

BENGKULU SELATAN || NUSANTARAMAILS.COM – Insiden pengeroyokan terhadap karyawan PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) di area perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Pino Raya pada Senin (24/11/2025) menarik perhatian publik.

Atas peristiwa berdarah tersebut, manajer kebun PT ABS, Suri Bakti Damanik menjelaskan kronologi terjadinya peristiwa berdarah pengeroyokan tersebut yang masih menyimpan trauma dikalangan karyawan.

Berawal dari perusahaan yang menurunkan alat berat bullduzer untuk rehab jalan yang ada di area perkebunan milik PT ABS. Pada aktivitas tersebut, ada 11 karyawan dan dua orang operator alat yang bekerja.

Sekira pukul 12.00 WIB di lokasi divisi dua Desa Karang Cayo Kecamatan Pino Raya, sekitar 50-an orang terdiri laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam Forum Masyarakat Pino Raya (FMPR) dikepalai, Edi Hermanto.

Kedatangan mereka menghampiri karyawan meminta karyawan PT ABS untuk tidak melakukan perehaban jalan. FMPR meminta alat berat dikeluarkan dari lokasi dan tidak boleh beraktifitas.

Dari pihak perusahaan mengatakan kalau untuk menarik alat berat tidak bisa karena perusahaan bekerja di dalam lokasi HGU, blok E6.

Kemudian FMPR minta dibuat surat pernyataan yang berisikan tidak boleh melakukan kegiatan perbaikan jalan.

“Karena sudah dikepung kami sudah ketakutan dan untuk menghindari bentrokan,” kata Damanik.

Permintaan pembuatan surat pernyataan disetujui perusahaan namun karena tidak ada alat tulis di lokasi saat itu, ditawarkan membuat surat pernyataan di kantor PT ABS di Kota Manna, tapi FMPR menolak. Lalu ditawarkan lagi buat surat di kantor Desa Karang Cayo atau Kembang Seri, namun FMPR tetap menolak.

Pukul 13.00 WIB, karena surat pernyataan tidak jadi dibuat FMPR mengultimatum diwakili Edi Hermanto, agar alat berat dibawa keluar dari lokasi.

Karena surat pernyataan tidak jadi dibuat kemudian Manajer Kebun, Suri Bakti Damanik ditarik oleh Edi Hermanto.

“Saya ditarik oleh Edi Hermanto, meminta agar saya mengeluarkan alat berat, lalu ramai-ramai puluhan warga memukul pundak saya, pakai pelepah sawit, dilakukan ada juga perempuan ikut memukul. Saya dikeroyok. Ada dua orang yang mencoba membacok dengan parang namun lengan tangan saya dan lengan tangan pembacok beradu, bacokan meleset. Kemudian saya diserang lagi oleh yang lain lalu saya terpeleset saya terjatuh terguling-guling, saat saya mau bangkit terdengarlah suara letupan, dalam hati saya bingung siapa yang menembak, warga atau siapa karena saya tahu anggota saya tidak memiliki pistol,” jelas Damanik.

Pukul 13.02 WIB Riki (asisten keamanan dan Humas) sudah berlari lalu terjatuh pada saat terjatuh itulah Riki dibacok sekitar lima orang menggunakan parang dan pisau.

“Kami lari kocar-kacir menyelamatkan diri terpencar-pencar,” ucap Damanik.

Pukul 13.36 WIB, Riki mengalami luka bacok, Riki dikeroyok lima orang lalu diselamatkan oleh karyawan bernama Khairul, Gamis, Taufik, Reyhan, Kairman. Kahirul juga alami luka gores akibat parang warga tangan sebelah kanan saat itu dia mencoba menyelamatkan Riki yang posisinya akan disembelih menggunakan parang oleh salah seorang warga.

Nyawa Riki selamat namun menderita sembilan luka bacok di kepala, leher luka tusukan, di bawah ketiak, tangan, dan punggung.

Lalu Riki dibawa ke rumah sakit Hasanuddin Damrah di Bengkulu Selatan. Kemudian Riki dipindah ke Rumah Sakit Asyifa, Bengkulu Selatan, terakhir dirujuk ke RS M. Yunus di Kota Bengkulu.(**)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan