Skip to content

Besarnya Cinta BPD Kepada Desanya Seperti Hati Yang Tak Pernah Berpaling

KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Dalam dinamika pembangunan desa yang sering diwarnai perdebatan, tarik-menarik kepentingan, hingga kritik pedas dari berbagai arah, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) tetap menunjukkan satu hal yang tak pernah berubah: cintanya kepada desa. Sebuah cinta yang besar, tenang, dan tidak pernah berpaling, sekalipun tugas yang diemban sering kali lebih berat daripada penghargaan yang diterima.

BPD hadir bukan sebagai penguasa, bukan pula sebagai lawan pemerintah desa, tetapi sebagai mitra yang menjaga keseimbangan. Mereka menjadi telinga bagi keluhan masyarakat, menjadi jembatan bagi aspirasi yang tak tersampaikan, sekaligus menjadi pengawas yang memastikan jalannya pemerintahan desa tetap berada pada rel yang semestinya.

Namun, di balik kewenangan itu, ada pengorbanan yang jarang terlihat. Banyak anggota BPD menunaikan tugasnya bukan karena bayaran—yang tak seberapa—melainkan karena panggilan hati.

Mereka terlibat dalam musyawarah panjang, menyusun regulasi desa, menghadiri rapat demi rapat, hingga turun langsung ke lapangan untuk memastikan pembangunan berjalan sebagaimana mestinya.

Di beberapa desa, BPD bahkan kerap mengisi kekosongan ketika masyarakat membutuhkan suara penengah, pereda konflik, atau sekadar tempat bertanya. Cinta mereka pada desa teruji dalam situasi sulit, terutama ketika keputusan yang harus diambil bukan sekadar administratif, tetapi menyangkut masa depan ratusan warga.

Meski begitu, tak sedikit anggota BPD yang merasakan bagaimana dedikasi mereka sering dianggap biasa saja. Ada yang merasa suaranya diabaikan, ada yang merasakan minimnya dukungan anggaran, bahkan ada pula yang berjalan sendirian ketika tanggung jawab moral menuntut mereka bicara lebih lantang. Namun seperti hati yang setia, mereka tetap berpijak, tetap menjalaninya dengan ketulusan.

Cinta BPD kepada desa bukanlah cinta yang hingar-bingar. Ia adalah cinta yang bekerja dalam diam, dalam kesunyian rapat malam hari, dalam kelelahan menelusuri program, dalam keteguhan menjaga transparansi, dan dalam keberanian bertanya demi kebaikan bersama.

Dan di tengah segala keterbatasan, BPD terus melangkah. Sebab bagi mereka, desa bukan sekadar wilayah administrasi—desa adalah rumah, sejarah, dan masa depan. Sebuah tempat yang cintanya tak pernah pudar, tak pernah berpaling, sekalipun badai perbedaan datang silih berganti.

Dari ruang musyawarah hingga sudut-sudut kampung, cinta itu tetap bekerja. Tenang, tulus, dan nyata.(yti)

Article topics

Leave a comment

Tinggalkan Balasan