Skip to content

Putri yang Terlupakan, Penderitaan adalah Guru Terbaik

NUSANTARAMAILS.COM – Di kaki Gunung Ciremai, berdirilah sebuah kerajaan kecil bernama Puspa Wangi. Kerajaan itu terkenal karena alamnya yang elok dan tanahnya yang subur. Namun, yang paling termasyhur dari Puspa Wangi adalah sang putri satu-satunya: Putri Larasati.

Sejak lahir, Larasati digadang-gadang sebagai lambang keindahan. Kulitnya seputih melati, matanya sebening telaga, dan senyumnya seperti cahaya pagi yang hangat. Rakyat memujanya, para pujangga menulis syair tentangnya, dan para pangeran dari negeri-negeri jauh berlomba mengirim lamaran.

Namun, kehidupan tidak selalu seindah dongeng.

Ketika Larasati menginjak usia tujuh belas tahun, suatu pagi ia terbangun dengan ruam merah di lengannya. Awalnya dianggap hal biasa, namun dalam hitungan hari, ruam itu menyebar ke seluruh tubuh. Kulitnya mengelupas, bernanah, dan menimbulkan bau yang menyengat.

Para tabib istana angkat tangan. Rakyat mulai berbisik, “Ini kutukan leluhur. Dosa masa lalu sang raja.” Tekanan datang dari para pembesar kerajaan. Raja Wirabumi yang terikat antara cinta pada putrinya dan ketakutan akan pemberontakan, akhirnya mengambil keputusan menyakitkan: mengasingkan Putri Larasati.

Baca Juga : 

Pemdes Merpas Salurkan BLT-DD Triwulan Pertama, KPM Terima Uang Tunai Rp 900 Ribu

Ia dibuang ke hutan larangan di kaki gunung, ditemani hanya oleh seorang dayang tua bernama Nyai Wulung.

Hari-hari Larasati di hutan diliputi rasa sakit dan sepi. Namun, di balik luka itu, ia perlahan belajar makna kesabaran, keteguhan, dan melihat dunia dari balik penderitaan. Nyai Wulung, yang ternyata memiliki darah dukun tua, mulai meracik ramuan dari dedaunan dan akar hutan. Tahun berganti, luka-luka di kulit Larasati memudar. Meski bekasnya masih tampak, sinar jiwanya justru makin terang.

Suatu hari, seorang pemuda tersesat di hutan dan pingsan. Larasati merawatnya bersama Nyai Wulung. Ketika si pemuda sadar, ia terkejut melihat wajah perempuan yang dipenuhi bekas luka, namun memiliki mata paling jernih yang pernah ia lihat.

Pemuda itu adalah Adipati Galuh, dari kerajaan tetangga. Ia sedang mencari tanaman langka untuk menyembuhkan ibunya. Larasati membantunya. Hari demi hari mereka lalui bersama. Dalam diam, cinta tumbuh—bukan dari rupa, tapi dari kehangatan jiwa.

Setelah ibunya sembuh, Adipati Galuh kembali ke hutan untuk melamar Larasati. Ia tak melihat luka, ia melihat kekuatan.

Saat Larasati kembali ke Puspa Wangi sebagai calon permaisuri Adipati, rakyat terdiam. Mereka melihat putri yang dahulu dibuang, kini kembali tidak dengan kecantikan wajah, tapi dengan kemegahan jiwa.

Raja Wirabumi meneteskan air mata dan memohon ampun. Tapi Larasati tak menyimpan dendam.

“Penderitaan adalah guru terbaik,” katanya.

“Aku dilahirkan sebagai bunga, tapi baru benar-benar mekar di tempat di mana tak ada siapa-siapa” (**)

One comment

Tinggalkan Balasan