Skip to content

Rembulan Jatuh di Pelukan Rakyat, Cinta Tak Memandang Tahta dan Mahkota

NUSANTARAMAILS.COM – Angin malam menyapu halaman alun-alun ketika Prabu Adiningrat melepas keris dan mahkotanya. Ia berjalan tanpa pengawal, mengenakan pakaian biasa, menyamar sebagai rakyat biasa. Sudah tiga malam berturut-turut ia keluar istana, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tahu pasti apa—ketenangan, mungkin. Atau mungkin… cinta.

Di bawah pohon tanjung tua di sudut pasar yang mulai sepi, ia melihat seorang gadis sedang menata bunga di atas tikar. Wajahnya biasa saja, tapi sorot matanya seperti embun yang menenangkan. Tangannya cekatan, mulutnya melantunkan tembang lirih yang membuat malam seolah lupa pada gelapnya.

“Namamu siapa, Nimas?” tanya sang raja, mendekat perlahan.

Gadis itu tersenyum, tak tahu bahwa lelaki di hadapannya adalah penguasa tanah ini. “Larasati, Kanjeng. Tapi panggil saja Lara.”

Sejak malam itu, Prabu Adiningrat kerap datang. Mereka berbincang tentang bunga, tentang kehidupan, tentang mimpi-mimpi kecil yang tumbuh di antara tikar lusuh dan wangi melati. Hati sang raja perlahan tenggelam—bukan oleh kecantikan, tapi oleh ketulusan.

Baca Juga : 

Pemdes Merpas Salurkan BLT-DD Triwulan Pertama, KPM Terima Uang Tunai Rp 900 Ribu

Namun cinta di antara langit dan bumi tak pernah mudah.

Ketika pesta panen tiba, Prabu Adiningrat mengundang seluruh rakyat masuk ke halaman istana. Di hadapan ribuan pasang mata, ia berdiri angkuh dan agung, mengenakan kembali mahkotanya.

“Di antara kalian,” katanya lantang, “ada satu yang telah membuat rembulan jatuh dari langit ke bumi. Larasati, majulah.”

Gemetar, Larasati maju ke depan. Ia tak tahu harus tersenyum atau berlutut. Yang ia tahu, lelaki yang selama ini menemaninya di bawah pohon tanjung, kini berdiri sebagai raja.

“Aku jatuh cinta padamu, Larasati,” ucap sang raja. “Bukan sebagai raja kepada rakyatnya. Tapi sebagai pria yang kehilangan hatinya, lalu menemukannya di pelukan tembangmu.”

Semua terdiam. Waktu seperti berhenti. Lalu Larasati menjawab pelan, “Jika rembulan bisa jatuh ke bumi, biarlah aku yang menjaga cahayanya.”

Dan sejak saat itu, istana tak hanya harum oleh dupa dan kemenyan, tapi juga oleh bunga-bunga yang dibawa Larasati dari pasar. Dan malam-malam mereka masih dihabiskan di bawah pohon tanjung, tempat cinta dua dunia bertemu—tanpa mahkota, tanpa takhta, hanya dua hati yang saling menyapa.(**)

One comment

Tinggalkan Balasan