Skip to content

Angin dari Gunung Agung, “Pemimpin sejati bukan yang menukar dirinya demi damai semu”

NUSANTARAMAILS.COM – Kerajaan Bunga Dewata senantiasa harum oleh dupa dan bunga kamboja. Namun pagi itu, harum itu tergantikan oleh bisik-bisik cemas. Di balairung istana, para menteri membicarakan kabar dari utara: Kerajaan Jaya Suta mengirimkan surat lamaran untuk Putri Luh Ayu Saraswati. Bukan sekadar lamaran cinta, tapi tanda perjanjian politik.

Putri Luh Ayu berdiri di balik tirai, mendengarkan dengan hati yang gemetar.

“Ayahanda menginginkan aku menikah demi perdamaian?” bisiknya pelan kepada sang dayang, Wayan Sari.

Baca juga : 

Jaga Kelestarian Mangrove, Danbrigif 4 Mar/BS Bersama Golden Tulip Hotel Tanam 5.000 Bibit di Pantai Piabung Pesawaran

“Beliau khawatir perang tak terelakkan, Putri…” jawab Wayan, menunduk sedih.

Luh Ayu mengatupkan jari-jarinya. Ia mencintai rakyatnya seperti darahnya sendiri, tapi hatinya belum pernah bergetar pada siapa pun. Ia tahu Pangeran dari Jaya Suta itu dikenal kejam, haus kekuasaan. Jika ia menikah dengannya, ia khawatir akan kehilangan dirinya — kehilangan Bali.

Malam itu, Luh Ayu menyelinap ke Pura Taman Sari. Ia berdoa lama di bawah cahaya bulan, memohon petunjuk.

Tiba-tiba, angin dari Gunung Agung bertiup lembut, membawa aroma kenanga dan bisikan yang hanya bisa ia dengar:

“Pemimpin sejati bukan yang menukar dirinya demi damai semu.”

Keesokan harinya, di hadapan seluruh istana dan utusan Jaya Suta, Putri Luh Ayu berdiri tegak. Kebayanya sederhana, tapi matanya menyala seperti bara.

“Aku, Putri dari Bunga Dewata, tidak menolak pernikahan karena sombong, tapi karena aku tahu rakyatku butuh kedamaian yang lahir dari cinta, bukan ketakutan. Jika perang ingin dikabarkan, biar aku yang menari di garis depan. Tapi jika kalian masih punya hati, dengarkan suara bumi — bukan suara ego.”

Pangeran Jaya Suta mencibir dan pergi. Beberapa menteri mencemaskan murka yang akan datang.

Namun malam itu, petir menyambar puncak Gunung Agung — bukan pertanda amarah, melainkan jawaban. Esok harinya, rakyat dari Jaya Suta memberontak, menggulingkan pangeran mereka, terinspirasi oleh keberanian Putri Luh Ayu.

Ia tidak hanya menyelamatkan kerajaannya — tapi membakar semangat rakyat kerajaan lain untuk memilih pemimpin yang berhati nurani.

Dan di bawah sinar matahari yang hangat, rakyat Bali menari, membawa bunga dan harapan, karena mereka tahu, selama Putri Luh Ayu masih ada, keanggunan akan selalu berdampingan dengan keberanian.(**)

One comment

Tinggalkan Balasan