NUSANTARAMAILS.COM – Hari libur merupakan hari yang dinanti-nanti oleh semua profesi. Namun, bagi perantau hari libur banyak menyimpan rasa rindu akan kampung halaman.
Berikut puisi sedih dihari libur :
“Sunyi di Hari Libur”
Hari libur datang,
tapi tak ada tawa, tak ada bising,
hanya sepi yang mengetuk jendela,
dan bayangan yang enggan pergi.
Orang-orang tertawa di luar sana,
berbagi kisah, menjemput bahagia.
Sedang aku duduk di sudut kamar,
menghitung waktu yang terasa lambat benar.
Langit cerah, tapi hatiku mendung,
ingin tertawa, tapi air mata lebih dulu datang.
Hari libur, katanya hari penuh senyum,
bagiku, hanya pengingat bahwa aku sendiri.
Baca Juga :
ITB Apresiasi Presiden-Kapolri-DPR Atas Penangguhan Penahanan Mahasiswinya
“Libur yang Tak Dirayakan”
Hari ini hari libur,
orang-orang menutup buku, menutup rapat pintu kantor,
melangkah keluar, mencari cahaya
di taman, di pantai, di peluk orang tercinta.
Tapi aku di sini,
di ruang yang sama, dengan sunyi yang makin akrab.
Bantal sudah bosan menyerap air mata,
dinding pun hafal keluh yang tak lagi kuucap.
Dulu, hari libur berarti kebersamaan,
sarapan terlambat sambil tertawa,
menonton film walau sudah hafal dialognya,
atau sekadar duduk, saling diam, tapi hangat terasa.
Kini, libur hanyalah hari lain
di kalender yang terus berganti tanpa makna.
Tidak ada ajakan, tidak ada kabar,
hanya notifikasi sepi dari dunia luar.
Mereka berkata: “Nikmati waktumu, istirahatlah.”
Tapi bagaimana bisa beristirahat,
jika lelahku bukan karena pekerjaan,
melainkan karena rindu yang tak sempat pulang?
Aku ingin ikut tertawa,
ikut berjalan di bawah langit yang cerah.
Tapi langkahku tertahan oleh bayang,
oleh kenangan yang terlalu keras menggenggam.
Hari libur ini,
aku tidak ingin pergi, tidak ingin tinggal.
Aku hanya ingin didengar,
meski oleh senja yang perlahan memudar.(**)

One comment