NUSANTARAMAILS.COM – Moment perpisahan di sekolah bagi pelajar banyak mengandung makna yang luar biasa. Tak cukup diurai dengan kata-kata, terselip sejuta doa dan harapan. Berikut kumpulan puisi perpisahan di sekolah yang bikin sedih :
“Lonceng Terakhir”
Dentang lonceng pagi ini,
tak lagi memanggil untuk belajar,
tapi mengantar kami pergi,
meninggalkan jejak di tiap dinding dan papan tulis yang pudar.
Langkah kaki menapak pelan,
menyapa lorong untuk terakhir kalinya,
air mata jatuh diam-diam,
bersama tawa yang dulu kita bagi bersama.
“Kenangan di Bangku Belakang”
Di bangku belakang itu,
aku menulis mimpi dengan pensil tak berujung,
tertawa atas candamu,
dan sesekali pura-pura paham saat guru bertanya.
Kini semua hanya tinggal cerita,
tertulis di sudut hati,
bangku itu mungkin akan kosong lagi,
tapi kisah kita abadi.
“Sebelum Kita Pergi”
Sebelum kita benar-benar pergi,
mari tatap mata satu sama lain,
ucapkan terima kasih meski tak sempurna,
dan peluk dengan diam karena kata-kata tak cukup.
Esok mungkin kita asing,
tapi hari ini kita satu,
di bawah langit sekolah,
yang menyaksikan tumbuhnya rindu.
Baca juga :
ITB Apresiasi Presiden-Kapolri-DPR Atas Penangguhan Penahanan Mahasiswinya
“Surat untuk Hari Terakhir”
Hari terakhir ini, kutulis surat untuk waktu,
tolong simpan tawa kami,
rekam setiap langkah kaki,
dan jagalah semua yang tak terucap hari ini.
Karena esok, kami bukan lagi siswa di sini,
tapi kenangan yang menggantung di dinding-dinding sunyi,
menunggu dikenang,
dalam sunyi yang tak pernah benar-benar sepi.
“Selamat Tinggal, Sekolahku”
Tiga tahun secepat embun pagi,
hilang disapu mentari,
dan hari ini—
kami berdiri, menggenggam perpisahan dalam sunyi.
Papan tulis telah lama kami coret,
dengan tawa, dengan tangis,
dan kini kelas itu sunyi,
hanya sisa nama yang masih terukir di bangku kayu.
Guru tersenyum, tapi matanya sembab,
kami pun tertawa, padahal hati retak,
bagaimana mungkin melangkah pergi,
dari tempat yang telah ajarkan arti berdiri?
Teman,
kau bukan lagi sekadar teman,
kau adalah saksi luka dan tawa yang kubawa pulang,
tapi hari ini, kau hanya bisa kukenang.
Perpisahan ini seperti pisau pelan,
tak menyayat tubuh, tapi hati perlahan-lahan,
sampai akhirnya luka itu menjadi dalam,
dan tak bisa disembuhkan oleh waktu atau salam.
Selamat tinggal SMA tercinta,
tempat kami belajar jatuh dan bangkit bersama,
kau takkan kami lupa,
meski esok, kami tak lagi di bangku yang sama.(**)

One comment