Skip to content

Filosofi Tukang Parkir : Tidak Merasa Memiliki, Tapi Merasa Dititipi

Gambar ilustrasi.

KAUR || NUSANTARAMAILS.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan masyarakat yang kurang pandai besyukur dan ikhlas dalam menjalani tanggungjawabnya sebagai makhluk tuhan.

Khususnya, para pejabat negara maupun pejabat politisi yang haus akan kekuasaan. Guna lebih mawas diri agar tidak merasa tersakiti atas pergeseran maupun putaran dinamika jabatannya ada filosofi yang dapat menenangkan hati.

Filosofi tukang parkir mungkin salah satu yang dapat diambil pembelajaran dan makna yang luar biasa dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Tukang parkir memiliki jiwa yang ikhlas serta tidak pernah jumawa. Betapa tidak, tukang parkir memiliki kendaraan mewah berbagai merek berjejer rapi. Begitu pula kendaraan roda dua berbagai merek. Tapi hatinya tidak pernah sombong.

Kemudian, saat kendaraan tersebut pergi meninggalkannya, tukang parkir tidak pernah bersedih atau dongkol. Ia tetap semangat dan ikhlas.

Baca Juga : 

Belum Ada Puskesmas Di Kaur Yang Mampu Jadi Role Model, PR Berat Bagi Kepala Daerah

Hal ini karena tukang parkir memiliki semangat dan jiwa yang sehat. Tukang parkir sadar betul bahwa ia “tidak pernah merasa memiliki tapi ia merasa dititipi”.

Ketika harta, jabatan dan kekayaan meninggalkan dirinya maka ia tidak pernah kecewa atau sakit hati. Sebab, tukang parkir tidak pernah merasa memiliki jabatannya. Tapi tukang parkir merasa hanya dititipi jabatan.

Kalau saja, semua mampu mengimplementasikan filosofi tukang parkir maka akan sangat indah kehidupan masyarakat. Tidak akan ada gontok-gontokan dalam jabatan, tidak ada yang merasa kehilangan jabatan dan tidak ada yang merasa kecewa dengan jabatan.

Dalam dunia politik juga sama, jika saja semua politikus sadar bahwa jabatan politiknya, jabatan di partainya maupun jabatan lain yang diemban adalah titipan maka saat jabatan tersebut pergi meninggalkan dirinya tetap semangat dan ikhlas.

Dia sadar betul, bahwa semua dapat pergi begitu saja. Dimana saja, kapan saja tidak harus menunggu tua. Oleh karenanya, tetaplah merasa bersyukur atas amanah yang diberikan. Jangan pernah merasa jabatan tersebut adalah miliknya sendiri.

Jaga hati untuk tetap ikhlas dengan segala titipan yang diberikan. Begitu titipan tersebut diambil kembali, tidak ada rasa kecewa sekecil apapun. Semua berjalan mengalir, karena hati yang ikhlas.

“Semoga kita semua tetap diberi kekuatan hati, sehingga semua titipan yang diberikan pergi meninggalkannya maka ia tidak merasa kecewa,” ujar Rinsi (43).(yti)

Article topics

One comment

Tinggalkan Balasan