Oleh : Jacob Ereste
KAMI bertiga, Markenun dan Karto Glinding bisalah disebut sebagai sohib yang berhasil melampui tidak cuma sekedar jalinan perkawanan pada umumnya, karena sudah terjalin seperti ikatan persaudaraan yang tidak tersekat.
Sehingga, ikatan persahabatan sejak 40 tahun silam itu, telah menguji nilai persaudaraan yang tumbuh. Semua itu berlangsung jauh sebelum belajar di perguruan tinggi, lalu berpisah karena beberapa waktu lamanya.
Karena asyik melakukan pengembaraan intelektual maupun spiritual sampai bertemu kembali lagi sejak beberapa tahun belakangan dalam format yang sudah agak berbeda, sekedar untuk tidak mengatakan telah berusia senja.
Masing-masing kami agaknya cukup memiliki kesadaran serta pemahaman terhadap keunikan dan kelebihan masing-masing, sekaligus dengan kekurangannya — sebagai bagian dari kelebihan itu sendiri — minimal dalam kesetiaan dan egosentrisme yang relatif cukup terkendali.
Itulah sebabnya dari dialog “Renungan Akhir Tahun 2023 bersama Markenun kemarin, Karto Glinding langsung muring-muring, karena tak diajak serta. Meski dia pun paham bahwa acara itu berlangsung secara spontan, toh dia tetap saja terus menyodok dengan tuduhan.
Baca Juga :
Teror Sembako dan Politik Uang, Harus Dihadapi Dengan Akal Sehat dan Waras
Bila sikap egoistik kami berdua Markenun sama saja dengan sikap arogan sebagian besar kalangan aktivis yang merasa bahwa persoalan yang tengah melantak republik ini dapat diselesaikan sendiri.
Anggaran sikap arogan seperti itu, katanya justru yang menjadi peyebab dari perjuangan untuk rakyat menjadi sulit terwujud. Karena masalah besar yang tengah dihadapi bangsa dan Negara ini, harus dihadapi bersama.
Semua pihak harus yakin memiliki tanggung jawab yang sama. Sebab, tanpa ada dukungan dari berbagai pihak, tidak mungkin pembenahan di republik ini bisa terwujud.
Karena mereka yang tidak berperan serta justru sangat potensial menjadi penghambat dari perubahan untuk perbaikan masa depan yang diharap dapat lebih memberi kebahagian itu.

One comment